Pengantar: Apa arti globalisasi?
Posted by Tia pada Juni 25, 2009
Globalisasi terkait dengan perusahaan lintas negara. Globalisasi berarti politik karena tahapan globalisasi mengijinkan pemilik perusahaan dan asosiasinya untuk melepaskan dan menangkap kembali kekuatannya untuk tindakan yang dibatasi oleh lembaga politik dan kesejahteraan dari kapitalisme yang dikelola secara demokratis. Globalisasi memungkinkan hal-hal yang tetap tersembunyi selama tahap penjinakan kapitalisme demokratis-sejahtera. Artinya bahwa perusahaan global dapat memainkan peran kunci dalam membentuk tidak hanya ekonomi tetapi masyarakat secara keseluruhan – jika ‘hanya’ mereka memilikinya dalam kekuatan mereka untuk menarik sumber daya material (modal, pajak dan pekerjaan) dari masyarakat.
Dasar kekuatan lintas negara baru: pertama, perusahaan lintas negara dapat mengekspor pekerjaan ke bagian dunia dimana ongkos buruh dan kewajiban tempat kerja adalah yang terendah. Kedua, generasi komputer yang menghubungkan dunia dan membuat jarak semakin dekat membantu mereka untuk memecah dan menyebarkan barang dan jasa, dan memproduksinya melalui pembagian kerja di berbagai belahan dunia, sehingga penamaan nasional dan perusahaan menjadi hal yang tidak nyata. Ketiga, perusahaan lintas negara berada dalam posisi untuk menjadikan negara atau individu melawan satu sama lain, dalam proses ‘perdagangan kuda global’ untuk menemukan kondisi fiskal termurah dan infrastruktur yang paling memadai. Mereka juga dapat ‘menghukum’ negara tertentu jika mereka tampak ‘terlalu mahal’ atau ‘tidak ramah investasi’. Keempat, dalam hutan produksi global manufaktur dan terkontrol, perusahaan lintas negara dapat memutuskan untuk diri mereka sendiri untuk lokasi investasi, lokasi produksi, lokasi pajak, dan lokasi tempat tinggal, dan membuat lokasi-lokasi tersebut melawan satu sama lain. Akibatnya, eksekutif puncak dapat hidup di tempat yang paling indah, dan membayar pajak di tempat yang paling murah.
Semua hal ini terjadi tanpa hambatan atau pembahasan dalam parlemen, tanpa keputusan pemerintah dan tanpa perubahan hukum, ataupun perdebatan publik. Perusahaan yang bertindak dalam kerangka masyarakat dunia telah mendapat tambahan ruang lingkup tindakan dan kekuatan melampaui sistem politik. Melewati kepala pemerintahan dan parlemen, opini publik dan peradilan, kontrak keseimbangan kekuatan yang menjadi ciri modernitas pertama masyarakat industrial sekarang dihancurkan dan diubah menjadi alam independen tindakan ekonomi.
Negara nasional adalah negara wilayah yaitu kekuatannya didasarkan pada keterkaitan dengan tempat tertentu (atas kontrol terhadap anggotanya, legislasi yang berlaku, pertahanan perbatasan, dan seterusnya). Masyarakat dunia di awal globalisasi yang telah terbentuk dalam berbagai dimensi merusak pentingnya negara nasional, karena keberagaman lingkaran sosial, jaringan komunikasi, hubungan pasar dan gaya hidup, tidak satupun dari hal-hal ini khusus pada lokalitas tertentu, sekarang memotong perbatasan negara nasional. Ini terlihat di masing-masing pilar kedaulatan: dalam kenaikan pajak, tanggung jawab kebijakan, kebijakan luar negeri dan keamanan militer.
Misalnya pajak. Pembebanan pajak terkait tidak hanya satu prinsip tetapi prinsip yang mendasari otoritas negara nasional. Hak mengambil pajak dihubungkan dengan pengawasan kegiatan ekonomi dalam wilayah tertentu, tetapi menjadi dasar yang lebih tidak jelas ketika ruang lingkup meningkat untuk operasi di tingkat masyarakat dunia. Perusahaan yang memproduksi di satu negara, membayar pajak di negara lain dan menuntut pengeluaran infrastruktur di negara lain lagi. Masyarakat menjadi sangat mudah berpindah. Jika mereka kaya, mereka terbukti lebih mampu untuk mengeksploitasi celah-celah dalam jaringan fiskal negara; jika mereka mencari keahlian kerja, mereka menyebarnya dimana mereka akan mendapat untung lebih banyak; dan jika mereka miskin, mereka mencari tempat dimana ada susu dan madu. Sebaliknya, negara nasional menjadi sangat terikat dalam kontradiksi jika mereka mencoba untuk menutup diri mereka dari dunia luar. Karena mereka harus menarik modal, orang dan pengetahuan dalam rangka bertahan hidup dalam persaingan masyarakat dunia.
Perusahaan lintas negara mengamankan keuntungan dan pengurangan tenaga kerja besar-besaran. Tetapi politisi yang membenarkan tingkat pengangguran yang besar untuk menekan pemotongan pajak, dengan harapan bahwa beberapa pekerjaan dapat diperas dari kemakmuran baru.
Barometer sosial menunjukkan peningkatan konflik, termasuk antara pembayar pajak nyata dan maya. Jika perusahaan lintas negara dapat lari dari cengkeraman birokrasi pendapatan daratan, perusahaan kecil dan menengah (yang menciptakan banyak pekerjaan baru) harus bertahan dengan banyaknya tekanan terhadap mereka. Adalah ironi sejarah bahwa orang yang paling dirugikan oleh globalisasi dimasa depan mereka harus membayar semuanya –dari negara sejahtera ke demokrasi berfungsi – sementara pemenang globalisasi memimpikan keuntungan dan mencuri dari tanggung jawabnya untuk demokrasi masa depan. Ini berarti bahwa, di era globalisasi, isu utama keadilan sosial harus ditangani dengan cara baru, secara teoritis dan politis.
Bagi manajer perusahaan lintas negara, mereka menuntut politik biaya tinggi, hak-hak sosial dan sipil sebagai hal biasa, namun menghancurkan keuangan publik yang mendukung mereka. Mereka menikmati hidup dengan gaya eropa, tetapi kebijakan mereka yang berorientasi keuntungan melakukan banyak hal untuk menjamin bahwa gaya hidup mereka akan hancur.
Tekanan pada negara sejahtera tidak hanya dari kombinasi sumber daya yang menyusut dan pengeluaran yang meroket, tetapi juga dari fakta bahwa kurangnya sarana untuk memenuhi tuntutan terhadap negara pada waktu ketika kesenjangan antara kaya dan miskin semakin melebar. Ketika kerangka nasional kehilangan kekuatan pengikatnya, yang menang dan yang kalah dari globalisasi tidak akan duduk dalam satu meja. Orang kaya baru tidak membutuhkan orang miskin baru. Sehingga sangat sulit untuk menghilangkan perbedaan di antara mereka, karena tidak ada kerangka untuk mengatasi konflik yang dapat diberikan dan diatur. Negara telah kehilangan cara untuk mendamaikan dan mengatasi dengan meningkatnya ukuran kue yang tersedia untuk dibagi.
Negara nasional terjebak antara ekonomi dunia dan individualisasi: apa yang harus dilakukan?
Perekat sosial telah memunculkan kecenderungan individualisasi, bahwa masyarakat telah kehilangan kesadaran diri kolektif dan kapasitasnya untuk tindakan politik. Pencarian respon politik untuk isu-isu besar masa depan tidak lagi menjadi perhatian.
Namun demikian, sulit untuk melawan kekuatan dunia dari pasar dunia. Ini hanya dimungkinkan dengan menghancurkan gambaran pasar dunia yang sangat kuat yang ada dipikiran masyarakat dan melumpuhkan semua tindakan.
Globalisme adalah pandangan bahwa pasar dunia mengurangi atau menggantikan tindakan politik, yaitu ideologi aturan oleh pasar dunia, ideologi neoliberalisme. Globalisme berjalan secara monokausal dan ekonomis, mengurangi keragaman dimensi globalisasi menjadi dimensi ekonomi tunggal yang dipandang dalam bentuk linier. Jika menyebutkan dimensi lain globalisasi –ekologi, budaya, politik, masyarakat madani- hanya dilakukan dengan menempatkannya dibawah sistem pasar dunia. Tidak ada yang menyangkal pentingnya globalisasi ekonomi, juga sebagai pilihan dan persepsi pelaku perusahaan. Inti ideologi globalisme adalah bahwa perbedaan dasar modernitas pertama dilikuidasi, yaitu perbedaan antara politik dan ekonomi. Tugas politik adalah membentuk hukum dasar, kondisi sosial dan ekologis dimana kegiatan ekonomi dimungkinkan secara sosial dan sah, menjatuhkan pandangan atau ditekan. Globalisme mengimplikasikan bahwa struktur kompleks seperti Jerman dapat menghalangi kerja perusahaan. Tetapi ini mencakup imperialisme ekonomi yang sesungguhnya, dimana perusahaan menuntut kondisi dasar agar mereka dapat mengoptimalkan tujuannya.
Proteksionis konservatif menangisi runtuhnya nilai-nilai dan menurunnya arti penting dimensi nasional, tetapi agak kontradiktif juga mengejar kerusakan negara nasional neoliberal.
Proteksionis hijau melihat negara nasional sebagai biotop politik yang terancam punah, yang menegakkan standar lingkungan terhadap kekuatan pasar dunia dan karenanya berhak atas perlindungan alam itu sendiri.
Proteksionis merah mengenakan kostum perjuangan kelas untuk semua kasus; globalisasi adalah kata lain untuk ‘hak mendapatkan semuanya’ dimana mereka merayakan pesta kebangkitan Marxis.
Globalitas berarti bahwa kita telah hidup lama dalam masyarakat dunia, dalam pengertian bahwa ungkapan ruang tertutup sudah tidak ada. Tidak ada kelompok atau negara yang dapat menutup diri dari dunia luar. Berbagai bentuk ekonomi, budaya dan politik saling berbenturan satu sama lain, dan hal yang dulu diterima apa adanya harus dicari pembenaran yang baru.
Globalisasi berarti proses-proses melalui mana negara-negara nasional berdaulat saling bersilangan dan dirusak oleh aktor-aktor lintas negara dengan berbagai prospek kekuatan, orientasi, identitas dan jaringan.
Satu ciri utama untuk membedakan modernitas kedua dari yang pertama adalah fakta bahwa globalitas baru tidak dapat dibalikkan. Ini berarti bahwa berbagai logika globalisasi otonom –logika ekologi, budaya, ekonomi, politik, dan masyarakat madani- berada berdampingan dan tidak dapat dikurangi atau dijatuhkan ke satu sama lain.
Ada 8 sebab mengapa globalitas tidak dapat dibalikkan:
- Perluasan geografis dan kepadatan perdagangan internasional yang semakin besar, serta jaringan global pasar keuangan dan tumbuhnya kekuatan perusahaan lintas negara.
- Terus berlanjutnya revolusi teknologi informasi dan komunikasi.
- Tuntutan hak asasi manusia universal – (basa-basi yang dibayarkan pada) prinsip demokrasi.
- Arus pencitraan dari industri budaya global.
- Munculnya politik dunia yang pascanasional dan polisentris, dimana aktor lintas negara (perusahaan, organisasi non-pemerintah, PBB) meningkat dalam hal kekuatan dan jumlah disamping pemerintah.
- Persoalan kemiskinan dunia.
- Isu kerusakan lingkungan global.
- Konflik lintas budaya di satu tempat yang sama.
Globalitas berarti bahwa dari sekarang tidak ada yang terjadi di bumi hanya terbatas pada kejadian lokal yang terbatas; semua penemuan, kemenangan dan bencana mempengaruhi seluruh dunia, dan kita harus mengubah orientasi dan mengelola kembali hidup dan tindakan kita, organisasi dan lembaga kita, disepanjang poros ‘lokal-global’.
Persoalan tingkat keberhasilan globalisasi dan keterbatasannya berhubungan dengan 3 parameter yaitu: (a) perluasan ruang, (b) stabilitas dari waktu ke waktu, dan (c) kepadatan sosial jaringan lintas negara, hubungan dan aliran pencitraan.
ivenxadytia berkata
wah… serujuga bac blog nya…
success yah….
ihsanwalid abidin berkata
apakh yg di sebut globalisasi
ihsanwalid abidin berkata
okd
Apakah yg di sebut mentri
anak sekolahan berkata
thx ya infonya..lumayan buat aku bljr